Selasa, 17 Oktober 2017

KIMIA MEDISINAL OXAMNIQUINE

OXAMNIQUINE
Oxamniquine adalah obat yang biasa digunakan untuk mengobati schistosomiasis. Oxamniquine, merupakan turunan 2 aminomethyltetrahydroquinoline yang dapat diproduksi dari sintesis biologi. Obat tersebut memiliki efek antikolinergik yang meningkatkan motilitas parasit, dan menghambat sintesis asam nukleat. Penggunaan obat ini di brazil, dapat bekerja dengan baik dengan dosis oral 15mh/kg untuk dewasa dan dua dosis harian 10 mg/kg untuk anak-anak yang dievaluasi melalui feses.






Gejala :
Di atas segalanya, schistosomiasis adalah penyakit kronis. Banyak infeksi subclinically gejala, dengan anemia ringan dan kekurangan gizi yang umum di daerah endemik. Schistosomiasis akut (demam Katayama itu) dapat terjadi minggu setelah infeksi awal, khususnya oleh S. mansoni dan S. japonicum. Manifestasi meliputi :
• Sakit perut
• Batuk
• Diare
• Eosinofilia – granulocyte eosinofil yang sangat tinggi (sel darah putih) menghitung.
• Demam
• Kelelahan
• Hepatosplenomegali – pembesaran baik hati dan limpa.
• Luka kelamin – lesi yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi HIV. Lesi disebabkan oleh Schistosomiasis dapat terus menjadi masalah setelah pengendalian infeksi Schistosomiasis itu sendiri. Pengobatan dini, khususnya anak-anak, yang relatif murah, mencegah pembentukan luka.
• Kulit gejala : Pada awal infeksi, gatal ringan dan dermatitis papular kaki dan bagian lainnya setelah berenang di sungai tercemar mengandung serkaria.
Satu hal lain yang perlu diketahui adalah gejala sistosomiasis setiap spesiesnya berbeda-beda.


Mekanisme kerjanya
sama dengan praziquantel yaitu dengan cara menyebabkan kerusakan pada tegumental cacing dan menyebabkan kontraksi serta paralisis otot cerstode yang diakhiri dengan kematian pada cacing. Oxamniquine diduga melibatkan enzim sulphotransferase yang ada pada sel parasit. Setelah oxamniquine terikat pada reseptor maka gugus hidroksil dirubah menjadi ester sulfat. Struktur akhir yang terbentuk adalah zat alkilasi yang dapat mencegah replikasi DNA parasit
site aktifnya :



Farmakokinetik :
Oxamniquine di gunakan secara oral dengan waktu paruh 2,5 jam
Di eksresikan melalui urin
Oxamniquine aman dan efektif pada semua stage of disease (Accumulation, Aggravation, Overflow, Relocation, Manifestation, and Maturation). Dengan pemberian bersamaan dengan makan yang dibagi kedalam dua dosis setiap 6-8 jam.

Efek samping :
Yang paling umum : pusing, sakit kepala, dan mengantuk
Gangguan GI
Perubahan warna urin dari orange menjadi merah
proteinuria


PERTANYAAN:
1. Bagaimanakah aturan penggunaan obat oxamniquine untuk anak-anak dan dewasa dan apakah penggunaan obat ini diperbolehkan untuk ibu hamil dan menyusui dan bagaimana dosisnya 
2. Apa interaksi obat ini jika diberikan bersaamaan denga obat yang bersifat keras ?
3. Menurut pendapat kalian, mengapa obat turunan biasanya lebih efektif digunakan?, dan biasanya bagian mana yang dirubah sehingga obat turunannya sering digunakan?
4. Apakah penggunaan oxamniquine dalam jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan ??

Jumat, 13 Oktober 2017

ANTALGIN



Antalgin

Antalgin merupakan obat analgetik-antipiretik dan antiinflamasi. Analgesik adalah obat untuk menghilangkan rasa nyeri dengan cara meningkatkan nilai ambang nyeri di sistem syaraf pusat tanpa menekan kesadaran, sedangkan antipiretik merupakan obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Sedangkan antiinflamasi adalah mengatasi inflamasi atau peradangan.

Uraian Umum Antalgin

Rumus Struktur           : C13H16N3NaO4S.H2O
Nama Kimia                : Natrium 2,3-dimetil-1-fenil-5-pirazolon-4- metilaminometanasulfonat
Berat Molekul             : 351,37
Pemerian                     : Serbuk hablur, putih atau putih kekuningan.
Kelarutan                    : Larut dalam air dan HCl 0,02 N.
Identifikasi                  : Pada 3 ml larutan 10% b/v, tambahkan 1 ml sampai 2 ml asam  klorida0,02 N dan 1 ml besi (III) klorida 5% b/v terjadi warna biru yang jika dibiarkan berubah menjadi  merah kemudian tidak berwarna.
Susut Pengeringan      : Tidak lebih dari 5,5%; lakukan pengeringan pada suhu 105derajat.
   hingga bobot tetap menggunakan 250 mg zat.
Syarat Kadar               : Metampiron mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0% C13H16N3NaO4S, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Sinonim                       : Metampiron (Ditjen POM, 2006).

Farmakologi antalgin
Antalgin termasuk derivat metan sulfonat dari amidopyrin yang mudah larut dalam air dan cepat diserap ke dalam tubuh. Bekerja secara sentral di otak dalam menghilangkan nyeri, menurunkan demam dan menyembuhkan rheumatik. Antalgin mempengaruhi hipotalamus dalam menurunkan sensitifitas reseptor rasa sakit dan thermostat yang mengatur suhu tubuh.

Farmakodinamika antalgin
Sebagai analgetika, obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang, misalnya sakit kepala dan juga efektif terhadap nyeri yangberkaitan dengan inflamasi. Efek analgetiknya jauh lebih lemah dari efek analgetik opiat, obat ini tidak menimbulkan ketagihan (adiksi) dan efek samping sentral yang merugikan. Sebagai antipiretik, obat ini akan menurunkan suhu badan hanya padakeadaan demam. Kerja analgetik antalgin lebih besar dibandingkan dengan kerja antipiretik yang dimilikinya. Sedangkan efek antiinflamasinya sangat lemah.


Farmakokinetik antalgin
Fase farmakokinetik adalah perjalanan antalgin mulai titik masuk ke dalam badan hingga mencapai tempat aksinya. Antalgin mengalami proses ADME yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi yang berjalan secara simultan langsung atau tidak langsung melintasi sel membrane. Pada pemberian secara oral senyawa diserap cepat dan sempurna dalam saluran cerna. Terdapat 60% antalgin yang terikat oleh protein plasma, masa paru dalam plasma 3 jam. Obat ini dimetabolisme di hati menjadi metabolit utama dan diekskresi melalui ginjal.

Mekanisme Kerja Antalgin
Mekanisme kerja antalgin sama dengan obat-obat AINS lainnya. Antalgin merupakan derivat metasulfonat dari amidopirin. Amidopirin bekerja di sistem syaraf pusat dengan mempengaruhi hipotalamus untuk menurunkan sensitifitas reseptor nyeri dan termostat yang mengatur suhu tubuh.
Obat ini menurunkan sintesis prostaglandin D dan E sehingga menghasilkan efek analgesik (mengurangi rasa sakit), antipiretik (menurunkan demam) dan antiinflamasi (mengurangi peradangan). Prostaglandin merupakan mediator pembawa pesan proses peradangan di sistem syaraf pusat. Pembentukan prostaglandin diturunkan dengan cara menghambat enzim cyclooxygenase yang berperan memacu pembentukan prostaglandin, asam arakidonat dan trmboksan.

Efek Samping
Efek Samping Antalgin Obat antalgin ini dapat menimbulkan beberapa efek samping, terutama apabila diminum secara berlebihan dan dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa efek samping antalgin antara lain: Radang lambung rasa perih atau sakit pada uluhati (gastritis) alias sakit maag Hiperhidrosis keringat berlebih Retensi cairan dan garam dalam tubuh Reaksi alergi bagi mereka yang rentan atau sensitif, berupa gatal pada kulit, kemerahan atau edema angioneurotik. Pada pemakaian antlagin dalam jangka waktu panjang secara teratur, metampiron dapat menimbulkan kasus agranulositosis. Untuk mendeteksi masalah ini, diperlukan pemeriksaan darah secara teratur. Jika hal ini terjadi, maka penggunaan obat ini harus segera dihentikan. Perhatikan juga bahwa walaupun antalgin adalah obat pereda nyeri, namun obat ini tidak untuk mengobati rasa nyeri otot pada gejala-gejala flu dan tidak untuk mengobati kondisi rematik, lumbago, sakit punggung, bursitis, dan sindroma bahu-lengan. Pada pemakaian dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan sindrom neuropathy, namun untungnya dapat berangsur menghilang apabila pengobatan dihentikan. Harus hati-hati menggunakan antalgin pada penderita yang pernah mengalami masalah pada pembentukan darah ataupun kelainan pada darah, juga hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal. Apabila metampiron ini digunakan dalam jangka waktu yang panjang, maka perlu dilakukan pemeriksaan fungsi hati dan darah untuk deteksi dini masalah efek samping yang mungkin berbahaya.

Kontraindikasi
Harap perhatikan! Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini. Antalgin tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh orang dengan kondisi sebagai berikut:
  • Ibu hamil dan menyusui, terutama pada periode kehamilan trimester pertama dan 6 minggu terakhir.
  • Penderita dengan tekanan darah sistolik < 100 mmHg, karena obat dapat menurunkan tekanan darah.
  • Bayi usia < 3 bulan atau dengan BB < 5 kg.
  • Pasien yang sedang mengalami agranulositosis, yaitu keadaan yang ditandai dengan berkurangnya jumlah granulosit.
  • Penderita dengan kelainan darah atau pendarahan.
  • Pasien glukoma sudut sempit.
  • Memiliki riwayat alergi terhadap antalgin atau komponen-komponen obat di dalamnya, serta obat-obat lain dalam golongan yang sama.


DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, A., 1994, Analisis Kuantitatif Beberapa Senyawa Farmasi, Universitas Sumatera Utara Press, Medan,Hal.23-25.
Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi keempat, Universitas Indonesia Press, Jakarta,Hal. 399-405.
Lukmanto, H., 1986, Informasi Akurat Produk Farmasi di Indonesia,
Edisi II, Jakarta, Hal. 112.


PERTANYAAN:
1. Bagaimana efek samping dari antalgin?
2. Apakah obat ini aman digunakan bagi anak-anak? Bagaimana dengan dosisnya?

Kamis, 12 Oktober 2017

ANALGETIKA



Analgetik
Analgetik atau obat-obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Didalam lokasi jaringan yang mengalami luka atau peradangan beberapa bahan algesiogenic kimia diproduksi dan dilepaskan, didalamnya terkandung dalam prostaglandin dan brodikinin. Brodikinin sendiri adalah perangsang reseptor rasa nyeri. Sedangkan prostaglandin ada 2 yang pertama Hiperalgesia yang dapat menimbulkan nyeri dan PG(E1, E2, F2A) yang dapat menimbulkan efek algesiogenic.
            Nyeri sebenarnya berfungsi sebagai tanda adanya penyakit atau kelainan dalam tubuh dan merupakan bagian dari proses penyembuhan (inflamasi). Nyeri perlu dihilangkan jika telah mengganggu aktifitas tubuh. Analgetik merupakan obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
            Obat ini digunakan untuk membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita sering mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu komponen obat yang kita minum biasanya mengandung analgetik atau pereda nyeri.  Pada umumnya (sekitar 90%) analgetik mempunyai efek antipiretik.
Macam- Macam Obat analgetik
            Analgetik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem saraf pusat secara selektif, digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadara. Analgetik bekerja dengan meningkatkan nilai ambang persepsi rasa sakit.
            Berdasarkan mekanisme kerja pada tingkat molekul, anagetika dibagi menjadi duagolongan yaitu analgetika narkotik dan analgetika non narkotik.
1.    Analgetika Narkotik
            Analgetika opioid atau narkotik sering disebut analgetika sentral merupakan turunan opium yang berasal dari tumbuhan Papever somniferum atau dari senyawa sintetik. Analgetik ini digunakan untuk meredakan nyeri sedang sampai hebat dan nyeri yang bersumber dari organ viseral. Penggunaan berulang dan tidak sesuai aturan dapat menimbulkan toleransi dan ketergantungan. Opioid memiliki daya penghalang  nyeri yang kuat sekali dengan titik kerja yang terletak di SSP. Umumnya dapat mengurangi kesadaran (mengantuk) dan memberikan perasaan nyaman (euphoria). Analgetik opioid ini merupakan pereda nyeri yang paling kuat dan sangat efektif untuk mengatasi nyeri yang hebat.
            Dapat juga menyebabkan toleransi, kebiasaan (habituasi), ketergantungan fisik dan psikis (adiksi) dan gejala-gejala abstinensia bila diputuskan pengobatan (gejala putus obat). Karena bahaya dan gejala-gejala di atas maka pemakaian obat-obat ini diawasi dengan seksama oleh Depkes  dan dimasukkan kedalam Undang-undang  Obat bius (Narkotika).
            Analgetika narkoti, kini disebut juga opioida (= mirip opiate) adalah zat yang bekerja terhadap reseptor opioid khas di susunan saraf pusat, hingga persepsi nyeri dan respon emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi). Minimal ada 4 jenis reseptor, pengikatan padanya menimbulkan analgesia.Tubuh dapat mensintesa zat-zat opioidnya sendiri, nyakni zat –zat endorphin yang juga bekerja melalui reseptor opioid tersebut.
            Tubuh sebenarnya memiliki sistem penghambat nyeri tubuh sendiri (endogen), terutama dalam batang otak dan sumsum tulang belakang yang mempersulit penerusan impuls nyeri.
            Dengan sistem ini dapat dimengerti mengapa nyeri dalam situasi tertekan, misalnya luka pada kecelakaan lalu lintas mula-mula tidak terasa dan baru disadari beberapa saat kemudian. Senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh sistem endogen ini disebut opioid endogen. Beberapa senyawa yang termasuk dalam penghambat nyeri endogen antara lain: enkefalin, endorfin, dan dinorfin.
            Endorphin (morfin endogen) adalah kelompok polipeptida endogen yang terdapat di CCS dan dapat menimbulkan efek yang menyerupai efek morfin.Zat-zat ini dapat dibedakan antara β-endorfin, dynorfin dan enkefalin (yun. Enkephalos = otak), yang menduduki reseptor-reseptor berlainan.secara kimiawi za-zat ini berkaitan dengan kortikotrofin (ACTH), menstimulasi pelepasanya juga dari somatotropin dan prolaktin. Sebaiknya pelepasan LH dan FSH dihambat oleh zat ini.β-endorfin pada hewan berkhasiat menahan pernapasan, menurunkan suhu tubuh dan menimbulkan ketagihan. Zat ini berdaya analgetis kuat, dalam arti tidak merubah persepsi nyeri, melainkan memperbaiki ‘’penerimaannya”. Rangsangan listrik dati bagian- bagian tertentu otak mengakibatkan peningkatan kadar endorphin dalam CCS. Mungkin hal ini menjelaskan efek analgesia yang timbul (selama elektrostimulasi) pada akupunktur, atau pada stress (misalnya pada cedera hebat).Peristiwa efek placebo juga dihubungkan dengan endomorfin.
            Opioid endogen ini berhubungan dengan beberapa fungsi penting tubuh seperti fluktuasi hormonal, produksi analgesia, termoregulasi, mediasi stress dan kegelisahan, dan pengembangan toleransi dan ketergantungan opioid. Opioid endogen mengatur homeostatis, mengaplifikasi sinyal dari permukaan tubuh ke otak, dan bertindak juga sebagai neuromodulator dari respon tubuh terhadap rangsang eksternal.
            Baik opioid endogen dan analgesik opioid bekerja pada reseptor opioid, berbeda dengan analgesik nonopioid yang target aksinya pada enzim.
            Ada beberapa jenis Reseptor opioid  yang telah diketahui dan diteliti, yaitu reseptor opioid μ, κ, σ, δ, ε.  (dan yang terbaru ditemukan adalah N/OFQ receptor, initially called the opioid-receptor-like 1 (ORL-1) receptor or “orphan” opioid receptor dan e-receptor, namum belum jelas fungsinya).
a.       Reseptor μ memediasi efek analgesik dan euforia dari opioid, dan ketergantungan fisik dari opioid. Sedangkan reseptor μ 2 memediasi efek depresan pernafasan.
b.      Reseptor δ yang sekurangnya memiliki 2 subtipe berperan dalam memediasi efek analgesik dan berhubungan dengan toleransi terhadap μ  opioid.
c.       reseptor κ telah diketahui dan berperan dalam efek analgesik, miosis, sedatif, dan diuresis. Reseptor opioid ini tersebar dalam otak dan sumsum tulang belakang.
d.      Reseptor δ dan reseptor κ menunjukan selektifitas untuk ekekfalin dan dinorfin, sedangkan reseptor  μ selektif untuk opioid analgesic.
2.      Analgetik Non Narkotik
Analgetik non narkotik digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang ringan sampai moderat, sehingga sering disebut analgetika ringan, juga untuk menurunkan suhu badan pada keadaan panas badan yang tinggi dan sebagai antiradang untuk pengobatan rematik. Analgetika non narkotik bekerja pada perifer dan sentral sistem saraf pusat. Obat golongan ini mengadakan potensiasi dengan obat-obat penekan sistem saraf pusat. (Siswandono dan Soekardjo, 2008)
Mekanisme Kerja Obat Analgetik
1.    Mekanisme kerja analgetik narkotik
                        Efek analgetik dihasilkan oleh adanya pengikatan obat dengan sisi reseptor khas pada sel dalam otak dan spinal cord. Rangsangan reseptor juga menimbulkan efek euforia dan mengantuk.
                        Menurut Becket dan Casy, reseptor turunan morfin mempunyai tiga sisi yang sangat penting untuk timbulnya aktifitas analgetik, yaitu:
a.       Struktur bidang datar yang mengikat cincin aromatik obat melalui ikatan Vanderwalls
b.      Tempat anionik, yang mampu berinterak si dengan puasat muatan positif obat.
c.       Lubang dan orientasi yang sesuai untuk menampung bagian –CH2-CH2- dari proyeksi cincin piperidin, yang terletak depan bidang yang mengandung cincin aromatik dan pusat dasar.
                        Gambaran permukaan reseptor analgesik yang sesuai dengan permukaan molekul obat. Berdasarkan strruktur kimianya analgesik narkotik dibagi menjadi 4 kelompok turunan morfin, turunan fenilpiperidin, turunan difeilprofilamin dan turunan lain lain.
                        Secara umum analgesik narkotik adalah Terikatnya opioid pada reseptor menghasilkan pengurangan masuknya ion Ca2+ ke dalam sel, selain itu mengakibatkan pula hiperpolarisasi dengan meningkatkan masuknya ion K+ ke dalam sel. Hasil dari berkurangnya kadar ion kalsium dalam sel adalah terjadinya pengurangan terlepasnya dopamin, serotonin, dan peptida penghantar nyeri, seperti contohnya substansi P, dan mengakibatkan transmisi rangsang nyeri terhambat. Endorfin bekerja dengan jalan menduduki reseptor – reseptor nyeri di susunan saraf pusat, hingga perasaan nyeri dapat diblokir.Khasiat analgesic opioida berdasarkan kemampuannya untuk menduduki sisa-sisa reseptor nyeri yang belum di tempati endokfin.Tetapi bila analgetika tersebut digunakan terus menerus, pembentukan reseptor-reseptor baru di stimulasi dan pdoduksi endorphin di ujung saraf pusat dirintangi.Akibatnya terjadilah kebiasaan dan ketagihan.
2.      Mekanisme kerja analgesik non narkotik
a.     Analgesik
            Analgesik non narkotik menimbulkan efek anlagetik dengan cara menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalis biosintesis prostaglandin, ion-ion hidrogen dan kalium, yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi.
b.      Antipiretik
            Analgetika non narkotik menimbulkan kerja antipiretik dengan meningkatkan eliminasi panas, pada penderita dengan suhu badan tinggi, dengan cara menimbulkan dilatasi pembuluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat. Pengaruh obat pada suhu badan normal relatif kecil. Penurunan suhu tersebut adalah hasil kerja obat pada sistem saraf pusat yang melibatkan pusat kontrol suhu dihipotalamus.
c.       Antiradang
            Keradangan timbul karena pengaktifan fosfolipase A2, enzim yang menyebabkan pelepasan asam arakidonat, yang kemudian diubah menjadi prostaglandin oleh prostaglandin sintetase. Analgetik non narkotik menimbulkan efek antiradang melalui beberapa kemungkinan, antara lain adalah menghambat biosintesis dan pengeluaran prostaglandin dengan cara memblok secara terpulihkan enzim siklooksigenase sehingga menurunkan gejala keradangan. Mekanisme antiradang adalah menghambat enzim-enzim yang terlihat pada biosintesis mukopolisakarida  dan glikoprotein, meningkatkan pergantian jaringan kolagen dengan memperbaiki jaringan penghubung dan mencegah pengeluaran enzim-enzim lisosom melalui stabilitasi membran yang terkena radang. Analgetika non narkotik efektif untuk mengurangi keradangan tetapi tidak dapat mencegah kerusakan jaringan pada penderita artritis.
            Berdasarkan struktur kimianya analgetika non narkotik dibagi menjadi dua kelompok yaitu analgetik-antipiretika dan obat antiradang bukan steroid (Non Steroidal Antiinflamatory Drugs = NSAID)

DAFTAR PUSTAKA
Goodman and Gilman. 2007. Dasar Farmakologi Terapi Edisi 10. Jakarta: EGC

Michael,J.N. 2006. Farmakologi Medis Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.

Siswandono dan Soekardjo.2008. Kimia Medisinal. Surabaya: Airlangga University Press 

Tjay dan Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting Edisi V. Jakarta : PT. Alex Media.

PERTANYAAN :
1. Bagaimana mekanisme kerja obat analgetik non narkotik yang spesifik?
2. Bagaimana penggunaan analgetik pada lansia ? Apakah memiliki atutan dosis tertentu ?
3.  Reseptor apa yang bekerja pada mekanisme analgetik?

 


Rabu, 10 Mei 2017

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK FARMASI
SINTESA ASAM BENZOAT
 


Disusun oleh :

BiliaAyuSeptiani                    (F1F115046)

Asisten Laboratorium :
1.     Nurmawati Lase               (F1C114010)
2.     Eka Lusya Wahyuni         (F1C114015)
3.     Rivi Ikhsan Qasthari        (F1C114022)
4.     Nesya El Hikmah             (F1C114041)

Dosen Pengampu :
1.     Dr. rer. nat. Muhaimin, S.Pd., M.Si.
2.     Elisma, M.Farm., Apt.
3.     Havizur Rahman, M.Farm., Apt.



LABORATORIUM AGROINDUSTRI DAN TANAMAN OBAT
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2017


PERCOBAAN VI
SINTESA ASAM BENZOAT


I.     Tujuan
Mahasiswa dapat mensintesis asam benzoat dan menentukan titik lelehnya.

 II.  DasarTeori
Asam benzoat pertama kali ditemukan pada abad ke-16 destilasi kering setah kemenyan pertama kali dideskripsikan oleh nostraelamus (1556) dan selanjutnya oleh alekus podemontanus (1560) dan Blasse de Visenese (1596). Sustu von liebis dan friederich weihler berhasil menentukan struktur asam benzoat pada tahun 1832, mereka yang meneliti bagaimana asam hipurat berhubungan dengan asam benzoate.
Asam benzoat ( C7H6O2/C6H5COOH) adalah padatan Kristal berwarna putih dan merupakan asam karboksilat aromatic yang paling sederhana. Nama asam ini berasal dari sam benzoin (setah kemenyan), yang terdahulu merupakan satu-satunya sumber asam benzoat. Asam lemah ini beserta garam turunannya digunakan sebagai pengawet makanan. Asam benzoat adalah precursor yang penting dalam sistesis banyak bahan-bahan kimia lainnya.
Asam hidroksi benzoat bisa terdapat sebagai isomer orto, meta dan para. Isomer orto adalah asam salisilat dan turunan-turunannya misalnya natrium salisilat , ester dari gugus karboksilnya seperti metil salisilat dan ester dari gugus hidroksilnya seperti asetosal. Sebagai contoh isomer para adalah nipasol dan nipagin, sedangkan isomer meta dan turunannya hampir tidak digunakan dalam farmasi (Sudjadi,2008).
     MenurutDepkes RI (1979) karakteristik asam benzoat yaitu :
Sinonim                : Acidum Benzoicum
Rumus Kimia       : C7H6O2
Bobot Molekul     : 122,12
Pemerian              :  Hablur halus dan ringan, tidak berwarna, tidak berbau.
Kelarutan             : Larut dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam lebih              kurang 3  bagian etanol (95%) p, dalam 8 bagian kloroform p dan dalam 3 bagian eter p.
Identifikasi           : Didihkan 100 mg dengan 100 mg kalsium karbonat p   dan 5 ml air, saring. Pada filtrat tambahkan larutan besi (III) klorida p, terbentuk endapan kuning coklat.
Jarak lebur          : 121o sampai 124o
Sisa pemijaran    : Tidak lebih dari 0,1%
Khasiat                 : Antiseptikum ekstern, antijamur
Struktur               :


Gambar.1 struktur asam benzoate.
Sumber. Sudjadi. 2008


Asam benzoat diproduksi secara komersial dengan oksidasi parsial toluene dengan oksigen. Proses ini dikatalisis oleh kobalt ataupun mangan naftenat. Proses ini menggunakan bahan-bahan baku yang murah, menghasilkan rendemen yang tinggi, dan dianggap sebagai ramah lingkungan.

Gambar.2 oksidasi toluene menjadi asam benzoate.


Asam benzoat adalah zat pengawet yang sering dipergunakan dalam saos dan sambal. Asam benzoat disebut juga senyawa antimikroba karena tujuan penggunaan zat pengawet ini dalam kedua makanan tersebut untuk mencegah pertumbuhan khamir dan bakteri terutama untuk makanan yang telah dibuka dari kemasannya. Jumlah maksimum asam benzoat yang boleh digunakan adalah 1000 ppm atau 1 gram per kg bahan (day dan underwood, 1988).

Asam benzoat (C6H5COOH) adalah padatan kristal berwarna putih dan merupakan asam karboksilat aromatik yang paling sederhana. Nama asam ini berasal dari gum benzoin (getah kemenyan), yang dahulu merupakan satu-satunya sumber asam benzoat.  Asam lemah ini beserta garam turunannya digunakan sebagai pengawet makanan. Asam benzoat adalah prekursor yang penting dalam sintesis banyak bahan-bahan kimia lainnya.  Asam benzoat adalah zat pengawet yang sering dipergunakan dalam saos dan sambal. Asam benzoat disebut juga senyawa antimikroba karena tujuan penggunaan zat pengawet ini dalam kedua makanan tersebut untuk mencegah pertumbuhan khamir dan bakteri terutama untuk makanan yang telah dibuka dari kemasannya. Jumlah maksimum asam benzoat yang boleh digunakan adalah 1000 ppm atau 1 gram per kg bahan (Zaid, et al., 2014).
Pembatasan penggunaan asam benzoat ini bertujuan agar tidak terjadi keracunan. Konsumsi yang berlebihan dari asam benzoat dalam suatu bahan makanan tidak di anjurkan karena jumlah zat pengawet yang masuk kedalam tubuh akan bertambah dengan semakin banyak dan seringnya mengkonsumsi. Lebih-lebih lagi jika dibarengi dengan konsumsi makanan awetan lain yang mengandung asam benzoat.  Asam benzoat mempunyai senyawa ADI 5 mg/kg berat badan. Asam benzoat berdasarkan bukti-bukti penelitian menunjukan mempunyai toksinitas yang sangat rendah baik terhadap manusia ataupun hewan. Pada manusia, dosis toksiknya adalah 6 mg/Kg berat badan melalui injeksi kulit tetapi untuk pemasukan melalui mulut sebanyak 5 mg sampai 10 mg/hari dan selama beberapa hari asam benzoat dalam tubuh tidak mempunyai efek negatif ataupun merugikan terhadap kesehatan (Astawan, et al., 2015).
Sama seperti nitril ataupun amida lainnya, benzonitril dan benzoamida dapat dihidrolisis menjadi asam benzoat ataupun basa konjugasinya dalam keadaan asam atau basa. Disproporsionisasi benzaldehida yang diinduksikan oleh basa dalam reaksi canizaro akan menghasilkan sejumlah asam benzoat dan benzil alkohol dengan jumlah yang sama banyak. Benzil alkohol tersebut kemudian dapat dipisahkan dari asam benzoat dengan menggunakan metode pemisahan destliasi. Bromo benzena juga dapat diubah menjadi asam benzoat dengan karbonasi zat antara fenil magnesium bromida. Benzil alkohol dapat direfluks dengan penambahan kalium permanganat (KMNO4) atapun oksidator lainnya dalam air. Campuran ini kemudian disaring untuk memisahkan  mangan oksida dari campuran, setelah itu didinginkan pada suhu ruangan untuk mendapatkan asam benzoat (Hart, 2003).


III. Alat Dan Bahan
3.1 Alat

a.    Labu alas bulat 200 ml
b.    Pendingin (kondensor)
c.    Gelas ukur
d.    Pipet tetes
e.    Spatula
f.     Bunsen
g.    Corong
h.    Erlenmeyer
i.     pH universal
j.     Kaki tiga
k.    Melting point apparatus

     3.2 Bahan




 IV.           Prosedur Percobaan
          




 V.           Hasil dan Pembahasan
Asam benzoate merupakan bahan pengawet yang biasa di tambahkan pada makanan ataupun minuman. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pertumbuhan mikroorganisme yang dapat mempercepat terjadinya penguraian sehingga menyebabkan makanan cepat rusak atau basi. Asam benzoate umumnya akan efektif pada pH 2,5- 4,0.
Struktur Kimia Asam Benzoat
Nama lain              : Asam benzenakarboksilat, Karboksibenzena,
Rumus Moleku     : C6H5COOH atau C7H6O2
Struktur   
-      Struktur kristal           :Monoklinik
-      Bentuk molekul          :Planar
-      Momen dipol               :1,72 D dalam Dioksida
     Sifat Kimia :
-      Rumus molekul        :C6H5COOH
-      Massa molar            :122,12 g/mol
-      Penampilan              :Padatan kristal tak berwarna
:atau jarum putih.
-       Bau                         :Sedikit berbau benzaldehid
 atau benzoin
-      Densitas                  :1,32 g/cm3, padat
-      Titik leleh                :122,4 °C (395 K)
-      Titik didih               :249 °C (522 K)
-      Kelarutan dalam air :Terlarutkan (air panas)
 3,4 g/l (25 °C).
-      Keasaman (pKa)        :4,21
Pada dasarnya bAsam Benzoat juga memiliki struktur yang terdiri dari gugus OH dan O yaitu sebagai berikut :

Gambar.3 struktur asam benzoate.
Sumber : Sudjadi. 2008.

Untuk semua metode sintesis, asam benzoat dapat dimurnikan dengan rekristalisasi dari air, karena asam benzoat larut dengan baik dalam air panas namun buruk dalam air dingin. Penghindaran penggunaan pelarut organik untuk rekristalisasi membuat eksperimen ini aman. Pelarut lainnya yang memungkinkan meliputi asam asetat, benzena, eter petrolium, dan campuran etanol dan air.
Perlakuan
Hasil
-2 gr KMn04 di tambahkan dengan aquadest 50 mL.
-Ditambahkan NaOH 10 % sebanyak 10 mL
-Ditambahkan toluene 3 mL
-Berwarna ungu pekat
-Tetap berwarna ungu pekat
-Berbau menyengat,terbentuk 2 lapisan seperti minyak dan berwarna ungu pekat

Tujuan dari penambahan aquadest adalah untuk mengencerkan KMn04 agar KMn04 dapat larut dengan sempurna yang menghasilkan larutan yang berwarna ungu pekat. Sedangkan penambahan NaOH adalah ditujukan untuk membuat larutan menjadi basa. Sedangkan penambahan toluene ditujukan agar didapati material dasar dari Kristal asam benzoate sehingga di dapati senyawa asam benzoat. Hal ini dikarenakan pada dasarnya asam benzoate dibuat dari oksidasi toluene  dalam suasana basa. Dimana toluene akan dioksidasi dengan KMnO4 sehingga terbentuk kalium benzoat.

Mekanisme yang terjadi pada saat pembentukan asam benzot adalah sebagai berikut :

Gambar.4 mekanisme sntesa asam benzoate.

   Pada reaksi diatas Kmn04 akan mengalami reduksi (yang mengoksidasi ion mnO4- ). Toluena memiliki struktur cincin benzena yang memiliki gugus alkil berupa CH3. Struktur ini akan membuat toluena mudah teroksidasi oleh KMnOyang merupakan oksidator kuat. Dalam proses pembuatan larutan KMnO4 harus dilakukan secara hati-hati karena sifatnya yang sensitif terhadap cahaya dan juga mudah bereaksi dengan senyawa lain.       
Perlakuan
Hasil
-Direfluks pada suhu 60°C selama 45 menit.
-Diasamkan dengan menambahkan asam sulfat 20%.
-Ditambahkan NaHSO4 ± 18 ml.
-Tetap berwarna ungu.
-Larutan menjadi asam.
-Menjadi bening tetapi masih sedikit keruh.

Reaksi oksidasi dapat berjalan dengan cepat jika dibantu dengan pemanasan sehingga harus di refluks. Metode refluks ini digunakan agar senyawa yang bereaksi tidak hilang karena adanya penguapan yang terjadi selama proses pemanasan. Dimana senyawa yang di refluk ini akan teroksidasi kembali oleh kondensor, selama 45 menit agar tidak ada kalium permanganat yang tersisa. Selanjutnya di lakukan pendinginan agar didapatkan hasil yang diinginkan menggunakan es batu. Hal ini bertujuan untuk mempercepat terjadinya reaksi pada larutan sehingga menyebabkan perubahan bentuk menjadi padatan yang diinginkan yaitu berbentuk Kristal jarum berwarna putih.
Adapun Prinsip dari metode refluks adalah pelarut volatil yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya dalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi sehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung.
Alat refluks dan bagian-bagiannya adalah sebagai berikut:

Gambar.5 alat refluks
Sumber: Sudjadi. 2008.


Fungsi bagian-bagian alat refluks yaitu :
a.    Labu alas bulat
Berfungsi sebagai tempat menampung sampel dan pelarut
b.    Pemanas
Untuk memanaskan sampel
c.    Kondensor
Berfungsi sebagai pendingin uap serta mempercepat pengembunan
d.    Selang air masuk
Sebagai tempat masuknya air ke dalam kondensor
e.    Selang air keluar
Sebagai media keluarnya air dari kondensor menuju labu alas bulat
Kemudian larutan yang telah yang telah dipanaskan ditambahkan larutan asam sulfat 20 % yang membuat larutan menjadi asam. Hal ini terjadi karena asam sulfat merupakan asam kuat yang biasanya dikatakan asam pekat yang dapat membuat larutan menjadi asam sehingga terjadi reaksi pada larutan. Dimana  reaksi yang terbentuk dari penambahan asam sulfat ini adalah sebagai berikut :

Dimana juga terjadi reaksi sebagai berikut  :
C6H5CH3 + 2KmnO4 → C6H5COOH + K2O + 2MnO2 + H2O
Pada saat praktikum, toluene ditambahkan KMnO4 sebanyak 2 gr kemudian ditambahkan NaOH 10% 10 ml dan air 50 ml. Dalam larutan tersebut terjadi reaksi disproporsinasi, yaitu reduksi dan oksidasi yang terjadi secara bersamaan pada zat yang sama. Pada larutan tersebut terjadi perubahan redoks pada Mn (VI) sebagian dioksidasikan menjadi asam benzoat. Berikut ini adalah reaksinya.
4 MnO4- (l) + 4 OH (l)         →       4 MnO42(l)-   + O2(g)+ 2H2O(l)
3MnO42- (l)+ 2H2O(l)        →      2MnO4-(l) + 4 MnO2(l)  + OH-(l)
Reaksi ini berlangsung dalam suasana basa. Dimana Suasana basa dibuat dengan dilakukannya penambahan NaOH. Seperti yang diketahui NaOH berfungsi sebagai katalis .Sedangkan zat pengoksidator dalam reaksi adalah KMnO4. Dimana kalium bikromat yang telah terbentuk ketika dilarutkan dalam HCl akan terbentuk asam benzoat seperti reaksi diatas . Kemudian dilakukan penambahan NaHSO3 yang bertujuan untuk menghilangkan kelebihan asam dimana ketika ditambahkan warna larutan menjadi sedikit bening namun masih agak keruh.
Perlakuan
Hasil
-Dipanaskan selama 15 menit di penangas air
-Disaring dan dikeringkan kristal yang terbentuk
-Bobot kristal kering
-Warna menjadi sangat bening
-Terbentuk Kristal
-2,32 gr

Tujuan dari dilakukannya pemanasan kembali adalah untuk menghilangkan kekeruhan pada larutan . Kemudian disaring larutan yang telah dipanaskan tersebut hingga kristal dan air terpisah kemudian dikeringkan. Kemudian bobot kristal ditimbang dan diperoleh hasil sebesar 2,32 gram.
erlakuan
Hasil
-Rendemen
-Titik leleh
-26,319 %
-116,4 – 124,5◦C

Kemudian dilakukan perhitungan % rendemen dan didapatkan hasil rendemen sebesar 26,319%. Artinya senyawa yang diperoleh merupakan senyawa asam benzoate yang kurang murni sebab menurut literatur % rendemen yang murni yaitu dibawah 100% dan lebih dari 50%.
Kemudian pengujian yang terakhir yaitu titik leleh dimana pada pengujian titik leleh diuji dengan menggunakan melting point apparatus. Prinsip dari pada melting Point Apparatus adalah pertama, menyalakan melting point apparatus dengan memutar pemutar suhu hingga 20 derajat celcius/menit. Kedua, ketika suhu pada termometer mencapai 60% dari titik lebur/titik leleh pada suatu senyawa murni yang sudah ditetapkan oleh ilmuwan, maka pemutar suhunya harus diturunkan hingga mencapai 10 derajat celcius/menit. Ketiga, jika pada termomoter suhunya sudah mencapai suhu titik lebur/titik leleh pada suatu senyawa murni yang sudah ditetapkan oleh ilmuwan ( misal : titik lebur/titik leleh asam benzoat murni adalah 122.4 derajat celcius  "kemudian dikurangi 15 derajat celcius" berarti pada suhu 107.4 derajat celcius pada senyawa asam benzoat ). Maka pada pemutar suhu harus diputar kekiri hingga 1 derajat celcius/menit.
Diperoleh hasil titik leleh dari asam benzoate yang dihasilkan sebesar 116,4 – 124,5◦C , hal ini sesuai dengan literatur dimana menurut literatur titik leleh asam benzoat yaitu 122,4 ◦C hal ini membuktikan bahwa kristal yang diperoleh merupakan Kristal yang murni.
Adapun prinsip dari sintesa asam benzoate ini adalah berdasarkan reaksi oksidasi dimana KMnO4 dilarutkan dalam aquadest dan ditambahkan dengan NaOH 20 % agar membuat larutan menjadi basa, kemudian ditambahan toluene agar didapati material dasar dari Kristal asam benzoate sehingga di dapati senyawa asam benzoat.
Pada percobaan ini terdapat beberapa kesalahan dalam perlakuan sintesa asam benzoate yaitu : dalam penggunaan larutan asetofenon daalam bentuk larutan sehingga terjadi kesulitan dalam pengkristalan. Pengatasan ini dapat diatasi dengan mengganti larutan dengan KMnO4, aquadest, Naoh 10%, Toluena, asam sulfat 20% dan NaHSO3 sehingga didapati kristal, dengan berbentuk seperti Kristal jarum yang berwarna putih.


 VI.         Kesimpulan dan Saran

6.1 kesimpulan
Sintesa asam benzoat dapat dilakukan dengan oksidasi tolune dalam suasana basa. Dimana toluena dioksidasi oleh KMnO4 akan terbantuk kalium benzoat kemudian setelah dilarutka dalam HCL akan terbentuk asam benzoat.

       Oksidasi toluen menjadi asam benzoat
Titik leleh yang diperoleh 116,4- 124,5°C, menurut literatur titik leleh asam benzoat 122,4°C, sehingga dapat disimpulkan bahwa kristal yang diperoleh dari percobaan adalah kurang murni dikarenakan titik lelehnya kurang dari titik  leleh yang terdapat pada literatur.

6.2 Saran
Dalam pembuatan asam benzoat ini sebaiknya digunakan bahan yang murni agar kristal asam benzoat yang dihasilkan juga murni dan diharapkan agar praktikan dapat melakukan dan mengetahui bagaimana proses sintesa asam benzoate sehingga praktikum dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan.



DAFTAR PUSTAKA


Astawan,  W., Hasanah, Z.A dan Diyan, D. 2015. Analisis dan identifikasi Asam Benzoat
dengan menggunakan esetofenon. Jurnal frmasi Indonesia. Volume 2 : 122-130.
Depkes RI . 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Day, R.A., Underwood, A.L. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Hart, H. 2003. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Jakarta: Erlangga.
Sudjadi. 2008. Analisis Kuantitatif Obat. Yogyakarta :Gadjah Mada University
Press.
Zaid, T., Frienly,W dan Fatimawali. 2014. Analisis senyawa asam benzoat pada kecap
manis produksi  lokal kota manado. Jurnal Ilmiah Farmasi. Volume 3 : 37-42.